Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Maret 2012

Pemlintiran makna gender


Tulisan ini berangkat dari masih banyaknya masyakat termasuk di dalamnya aktivis akademika yang belum paham makna gender yang sesungguhnya, bahkan kaum perempuan atau kaum wanita sendiri yang notabene korban dari pemlintiran makna gender, terkadang juga belum bahkan tidak paham. Penggunaan istilah perempuan berasal dari kata “empu” yang maknanya dihargai, dipertuan, dihormati sedangkan wanita berasal dari kata “wani tapa” artinya berani menderita untuk sebuah tujuan yang mulia (Handayani: 2008)

Gender dan kelamin

Gender adalah suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun cultural (Fakih: 2007:8). Misalnya perempuan senantiasa di identikkan dengan kelembutan, kasih sayang, selalu memakai perasaan, suka menangis, dll. Sementara laki-laki di identikkan dengan kepemimpinan, rasional, tegas, jarang menangis.

Kelamin merupakan penggolongan biologis yang didasarkan pada sifat reproduksi potensial (Sugihastuti, 2007:5). Misalnya perempuan memiliki vagina, payudara, rahim, bisa melahirkan dan menyusui, sementara laki-laki memiliki jakun, penis, dan menghasilkan sperma, ketetapan ini sudah ada sejak dahulu kala.
Gender tidak diturunkan langsung melalui ciri biologis, gender juga bukan kepemilikan individual. Tetapi gender dibentuk oleh lingkungan sosial. Gender bukanlah definisi permanen tentang cara “alami” bagi perempuan dan laki-laki untuk berperilaku, kendati pun definisi semacam itu dihadirkan atau dialami (Mosse, 2002:4). Gender tertanam dalam pengalaman-pengalaman mulai dari lembaga pendidikan, kantor pemerintahan, tempat rekreasi, hingga permainan. Gender terpatri dalam keluarga, lingkungan, sekolah, dan media. Gender dapat terlihat dari bagaimana perempuan dan laki-laki berjalan, makan di restoran, termasuk memakai toilet.

Pemlintiran makna gender

Pemaknaan gender atau kelamin yang tidak tepat tidak penting dan tidak menjadi soal bila tidak menimbulkan masalah. Namun pemaknaan yang tidak tepat telah menimbulkan masalah diantaranya merendahkan posisi perempuan baik di lingkungan rumah tangga, lingkungan kerja, atau lingkungan masyarakat sosial yang lebih luas. Eksploitasi terhadap perempuan, dan pelecehan seksual. Contoh pemlintiran makna gender diambil dari dua segi yaitu dari segi kebudayaan Jawa dan dari segi pandangan Islam.

A. Kebudayaan jawa
Di kebudayaan jawa di kenal berbagai pandangan, prinsip hidup, karakteristik masyarakat jawa yang diwujudkan dalam suatu kata-kata, khususnya yang akan dibicarakan disini adalah masalah perempuan. Kata-kata tersebut sayangnya diartikan secara egois oleh kalangan tertentu, sehingga menghilangkan makna luhur yang sebenarnya dikandung. Diantaranya yaitu “kanca wingking” yang oleh masyarakat pada umumnya diartikan dan diperjelas dengan istilah “dapur, kasur, pupur” atau “masak, macak, manak”. Sungguh ada yang salah disitu, yaitu pemlintiran makna, mencuplik dari Handayani (2008: 118) kanca wingking tidak selalu diartikan seseorang yang senantiasa berada di belakang, lebih buruk, dan kurang menentukan. Tapi istilah kanca wingking bila ditelaah lebih lanjut, bermakna luhur. Seperti sutradara, tempatnya di belakang layar tapi justru dialah yang menentukan jalannya permainan. Maka terdapatlah kata-kata yang amat terkenal bahwa”di belakang kejayaan seorang laki-laki ada perempuan hebat”.

B. Pandangan Islam
Orang seringkali menggunakan dasar agama untuk menginferioritaskan atau merendahkan perempuan, termasuk penggunaan kitab suci Al Quran sebagai dasar inferioriras, contohnya (Hidayatullah.com) pertama ungkapan “perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki” sehingga seringkali hanya sebagai pelengkap laki-laki saja. Padahal dalam Al Quran tidak pernah disebutkan hawa tercipta dari tulang rusuk adam. Keduanya adalah hamba Allah yang mempunyai kedudukan sama, tidak ada mana yang lebih rendah atau mana yang lebih tinggi. Kedua yaitu istilah yang juga popular di kalangan masyarakat Jawa “Surga nunut neraka katut,”. Allah memandang semua makhluknya sama kecuali takwanya, dan Allah memberikan balasan yang adil untuk semua makhluk baik laki-laki maupun perempuan untuk setiap perbuatannya. Ketiga ayat yang menyatakan “ Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita”. Pemimpin dalam bahasa Arab bisa berarti pelindung, atau penanggung jawab.

Dari itulah tak ada lagi direndahkan atau merendahkan, karena laki-laki dan perempuan pada dasarnya berpijak pada kodratnya masing-masing yang bila dijalankan dengan keluhuran akan menciptakan keharmonisan hidup di jagat raya. Perempuan harus lebih cerdas untuk memaknai hak dan kewajiban dalam hidup, serta jeli dengan tindakan-tindakan pemlintiran makna gender yang bermaksud merendahkan dirinya.

Sumber rujukan
Fakih, Mansour. 2007. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Handayani, Christina S& Ardhian Novianto. 2008. Kuasa Wanita Jawa. Yogyakarta: LKIS
Mosse, Julia Cleves. 2002. Gender dan pembangunan. Yogyakarta: pustaka pelajar.
Sugihastuti&Itsna Hadi Saptiawan. 2007. Gender & Inferioritas Perempuan: Praktik Kritik Sastra Feminis.
Pustaka pelajar: Yogyakarta.
Hidayatullah.com diakses 30 Desember 2009

Sorogan dan Wetonan


Ketika itu saya harus membaca buku karangan Djarnawi Hadikusuma berjudul  Matahari-Matahari Muhammadiyah dalam rangka diminta teman untuk membantu menulis sebuah naskah buku. Saya tertarik pada salah satu cerita tentang tokoh dari organisasi Muhammadiyah bernama KH. Ibrahim.

Disitu diceritakan tentang metode mengaji ala KH. Ibrahim. Perlu saya ingatkan bahwa KH. Ibrahim adalah salah satu pemimpin organisasi Muhammadiyah. Yang menarik, dari metode mengaji itu dinamakan Sorogan dan Wetonan. Metode sorogan adalah metode belajar mengaji dengan cara face to face atau seorang demi seorang, dan biasanya oleh sang kyai dilakasanakan setiap pagi dari pukul 7 sampai 9.  Sementara metode weton adalah metode belajar mengaji dengan cara sang Kyai membaca, sedang santri-santrinya mendengarkan dengan memegang kitabnya masing-masing. Wetonan dilaksanakan setiap hari sesudah ashar sampai kurang lebih pukul 5 sore.

Saya tidak mengerti bagaimana rasanya ketika mengaji menggunakan metode Sorogan dan Wetonan, karena saya memang tidak pernah nyantri. Metode inilah yang kemudian dipakai oleh santri-santri masa kini. Beruntunglah hei para santri yang pernah merasakan metode ini.

SK. Trimurti menolak mengerek bendera



Mengingat secuil peristiwa menjelang hari bersejarah yang dirayakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Pagi hari tanggal 17 Agustus 1945, rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta ramai dengan persiapan upacara. Ada banyak mata biru milik para londo yang memandang sinis.
Yu Tri, kerek bendera itu”, tiba-tiba terdengar suara beberapa orang. Si pemilik nama menyahut “Ndak mau, lebih baik saudara Latif (Hendraningrat) saja. Dia kan dari Peta”. Maka kita sekarang Latif Hendraningrat sebagai pengerek bendera pusaka pada upacara paling bersejarah bagi bangsa Indonesia yaitu upacara proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 kediaman Sukarno dan keluarga.
Lantas siapakah sosok manusia yang dipanggil “Tri” itu? Perempuan dengan panggilan “Tri” itu adalah Surastri Karma Trimurti yang kemudian lebih populer disebut SK. Trimurti. Sosoknya kecil mungil namun semangat dan keberaniannya membaja. Pengalamannya keluar masuk penjara akibat melawan Belanda adalah catatan sejarah yang melekat padanya.
Dia seorang wartawati, tulisannya tajam dan cenderung berani sehingga menimbulkan kecurigaan pemerintah kolonial. Namun demikian Surasti tak pernah merasa gentar atau menyerah.
Saya sadar anda pembaca pasti tidak tahu siapa tokoh yang saya bicarakan. Kalau pun ada yang tahu pasti hanya beberapa orang saja. Namanya memang tak pernah disebut di dalam buku pelajaran sejarah anak sekolah, namun begitu bukan berarti dia tak layak disebut pahlawan. Seandinya dia jadi mengerek bendera namanya akan banyak ditulis di buku sejarah anak sekolah??

Nyai di Loji-Loji Eropa


Tuan-tuan kolonial kita telah menurutkan “nafsu” mereka yang tak terkendali, dan dengan tidak peduli menghamili anak-anak perempuan negeri kita, anak-anak haram yang mereka nyatakan mendapat bagian “yang mulia” dari darah Eropa mereka. (E.F.E. Douwes Dekker).[1]

Selarik kalimat di atas merupakan protes yang disampaikan oleh E.F.E. Dauwes Dekker untuk para kolonialis Belanda yang melakukan praktek perkawinan antar bangsa namun cenderung mengarah pada perendahan martabat wanita Asia, karena pada umumnya praktek perkawinan tersebut lebih mengarah pada pergundikan.[2] Tulisan tentang pergundikan masa kolonial Belanda ini diawali dari asal mula kedatangan bangsa berkulit putih terutama Belanda di nusantara yang tidak disertai oleh keluarganya. Aturan yang ketat dan kerasnya kehidupan di negeri seberang mengharuskan para pegawai kerajaan Belanda datang seorang diri. Kebutuhan akan kehidupan yang teratur dan normal mendorong laki-laki Belanda untuk mencari pembantu sebagai pengatur rumah tangga yang dikemudian hari disebut “nyai”. 

Disitulah letak daya tarik kisah per-nyai-an masa kolonial Belanda karena pada prakteknya mereka tidak hanya membantu urusan rumah tangga tapi merambah wilayah pribadi yaitu urusan seksual yang semakin dirangsang karena iklim di daerah tropis dan adanya makanan yang berbumbu pedas. Seorang laki-laki Belanda yang memelihara nyai harus mendirikan rumah tangga sendiri terlepas dari para bujangan yang hidup di kamar-kamar. Sampai pergantian abad ke-20, hubungan antara pria Eropa dan wanita pribumi dipandang lumrah oleh masyarakat.

Kata nyai berarti gundik orang asing terutama orang Eropa atau panggilan kepada perempuan tua.[3] Awalnya kata nyai diartikan sebagai sebutan umum wanita dewasa di Jawa Barat namun mempunyai konotasi lain ketika masa kolonial Belanda yaitu lebih diartikan sebagai gundik, selir, atau wanita simpanan para pejabat dan serdadu bangsa Belanda. Pada masa kolonial nasib nyai lebih beruntung daripada budak, mereka berada dalam posisi yang tinggi secara ekonomis, tapi rendah secara moral. Secara ekonomis mereka berada di atas rata-rata perempuan pribumi yang bukan bangsawan

Sejarah per-nyai-an dimulai ketika Eva Ment istri dari Jan Pieterzoon Coen tiba di Batavia pada 27 September 1627 dari Belanda.[4] Dia adalah wanita Belanda pertama yang mendarat di nusantara. Suaminya adalah gubernur jenderal yang mendirikan kota Batavia setelah berhasil mengalahkan orang-orang Banten dan Inggris pada tahun 1619. Istri gubernur jenderal ini sengaja didatangkan dari Belanda bersama dengan adik perempuannya untuk memberi contoh potret keluarga Belanda yang baik. 

Berdirinya kota Batavia serta merta membutuhkan banyak para ahli di berbagai bidang untuk perkembangannya seperti dokter, ahli kapal, ahli tata kota, penginjil, dan orang-orang sipil biasa untuk menggerakkan perdagangan. Termasuk di dalamnya kebutuhan akan wanita-wanita Belanda untuk menciptakan sebuah kehidupan berkeluarga yang layak dan harmonis. Namun perjalanan laut yang panjang dan kematian yang besar bagi para penumpangnya menjadi penyebab gagalnya memenuhi kebutuhan di kota Batavia. Selain alasan-alasan tersebut juga hal lain yang menjadi penyebab langkanya wanita Eropa, yaitu adanya peraturan bahwa laki-laki Eropa hanya boleh menikah atas ijin atasan. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya ikatan antara laki-laki Belanda dengan wanita pribumi yang jarang menuju ke jenjang perkawinan tetapi lebih kepada pergundikan atau memelihara istri sampingan yang populer disebut nyai.
Bagaimanapun nyai adalah ibu dari sebagain besar penduduk indo[5] berdarah campuran. Sampai akhir tahun 1925 ada 27,5 persen dari seluruh orang Eropa yang tinggal di Indonesia, yang memilih menikah dengan pribumi atau pasangan yang berdarah campuran.[6]

Hidup dalam Dua Budaya
Lingkungan alam yang berbeda antara negeri Belanda dengan di nusantara menyebabkan perbedaan-perbedaan dalam banyak tatacara hidup. Wanita-wanita belanda akan berpakaian dengan wol yang hitam dan tebal di bagian atas, serta memakai rok beludru tebal disertai rok bagian dalam yang berlapis-lapis. Laki-laki Belanda juga mempunyai kebiasaan yang sama untuk berpakaian tebal yang berlapis-lapis disertai kaus kaki dan sepatu yang juga tak kalah tebalnya. Mereka juga menghindar dari mandi secara teratur dan pada waktu malam hari menutup jendela dengan tirai-tirai tebal. Dalam hal makan pun berbeda, karena orang-orang Belanda akan memakai peralatan makanan yang berat. 

Kebudayaan Eropa begitu pesat masuk ke bumi nusantara. Dalam hal pakaian di nusantara wanita pada umumnya menolak barat sementara laki- laki cenderung menerimanya[7] Laki-laki mulai menggunakan celana panjang, kemeja, jas dan dasi sementara wanita masih bertahan dengan memakai kain sarung dan kebaya yang memang lebih mudah dipakai. Wanita pribumi yang tinggal di rumah Eropa dalam hal ini adalah para nyai, mereka tetap melakukan kebiasaan pribumi yang ada terpisah dengan tuan mereka yang melakukan kebiasaan Eropa. 

Bersatunya nyai dan tuan Eropa-nya dalam sebuah kehidupan rumah tangga, menimbulkan banyak penyesuaian budaya terkait dengan alam dan gaya hidup pribumi. Pengaruh afektif kebudayaan Belanda yang sangat besar ini, lambat laun akan makin berkurang terutama setelah anak keturunannya dari hasil perkawinan dengan wanita Jawa makin banyak.[8] Mereka menyadari perlunya kebudayaan Belanda untuk tetap diunggulkan sebagai upaya untuk menjaga martabat bangsa penguasa. Penyesuaian antara kebudayaan Belanda dengan kebudayaan pribumi disebut sebagai kebudayaan indis. 

Namun dalam perjalanan hidup, anak indo akan cenderung mengikuti budaya ayahnya yang Eropa karena budaya ibunya yang pribumi tertindas oleh kuasa tuannya yang lebih menonjol. Maka bisa dibayangkan seorang wanita pribumi yang harus membesarkan anaknya sendiri yang berbeda budaya. Kebiasaan hidup para nyai yang berbeda dengan tuannya bahkan dengan anaknya sendiri yang indo menjadi gunjingan dan cemoohan para penulis Eropa, seperti cuplikan berikut:

Sambil tak henti-henti makan sirih pinang, dan tentu saja dikelilingi budak-budak perempuan yang mengeroki punggungnya, wanita-wanita ini seolah-olah menghabiskan umur mereka dengan berpangku tangan belaka.[9]
 
Nyai memang mempunyai keunikan, di satu sisi dicemooh dan dihina sebagai wanita murahan layaknya pelacur oleh banyak penulis Eropa namun di sisi lain dipuja layaknya bidadari yang jatuh dari surga. Para nyai sering digambarkan sebagai wanita cantik, menarik, mengenakan kain songket bersulam benang emas dan perak, mengenakan tusuk konde roos, peniti intan, dan giwang yang terbuat dari berlian. Mereka mempunyai kehidupan lebih dari cukup dilihat dari segi material, karena tuan-tuan mereka adalah para pegawai-pegawai kompeni yang bergaji besar. Maka tak aneh bila dari segi pakaian dan gaya hidup mereka termasuk kalangan atas setara dengan wanita pribumi bangsawan. 

Pujian dan sanjungan terhadap nyai dan wanita-wanita pribumi di sampaikan dalam sebuah puisi-sado Perancis bahwa warna kulit perempuan Hindia dipuji sebagai teint basane (avec) une petite couleur de chocolat-au-lait[10] Yang diartikan kulit dengan warna susu cokelat yang terbakar matahari atau dalam bahasa Inggris seperti warna sepatu indah yang terbuat dari kulit sapi muda. Hal ini menambah hasrat perjaka Belanda untuk menikahi perempuan berkulit cokelat dan berambut hitam legam daripada berada di dekat perempuan berkulit putih pucat dan jenis rambut jerami. 

Penggambaran penilaian terhadap wanita Jawa dan pekerjaannya yang berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi secara mendasar yang membuat kagum orang Belanda. Keluhuran dan kehebatan wanita pribumi terutama Jawa dalam masalah pekerjaan dan rumah tangga menurut laki-laki Eropa tercantum dalam karangan Raffles, History of Java sebagai berikut:

The labour of the women on java is estimated almost as highly as that of the men. In the transaction of money-concerns, the women are universally considered superior to men, and from the common labourer to the chief of a province it is usual for the husband to trust his pecuniary affairs entirely to his wife. The women alone attend the markets and conduct all the business of buying and selling. It is proverbial to say, that the Javanese men are fools in money concerns. [11]

Nyai ditugaskan untuk bekerja sebagai pengurus dalam rumah kehidupan antara dua budaya yang sangat jauh berbeda. Hal inilah yang mengakibatkan nyai hanya dianggap sebagai pemuas nafsu, selain mengurus rumah tangga. Namun nyai tetap bertindak sebagai kepala rumah tangga. Pembantu-pembantu lain dan kuli-kuli kontrak patuh dan tidak berani membantahnya. 

Wanita pribumi begitupun nyai sangat piawai dalam masalah obat-obatan tradisional dari tanaman atau akar alami. Sehingga walaupun mereka hidup serumah bersama laki-laki Eropa, saat menderita sakit ringan mereka lebih senang menggunakan obat-obatan tradisional daripada berkonsultasi pada dokter yang mendalami ilmu kedokteran barat. Bidang ini memberi kekayaan pengetahuan pada wanita. 

Status dalam Perkawinan
Seperti yang sudah tertulis sebelumnya, nyai berada dalam posisi yang tinggi secara ekonomis tapi rendah secara moral. Mereka biasanya hidup bersama dengan tuan Eropa tanpa adanya status perkawinan yang jelas. Bila dalam hubungan menghasilkan anak maka nyai dapat dituduh hal ini memang dilakukan dengan sengaja. Akibatnya anak tersebut akan diusir dari rumah beserta ibunya yang pribumi atau bisa juga laki-laki Eropa tersebut mensyahkan anaknya. Sesudah tahun 1915 anak-anak yang berasal dari hubungan ini dapat ditampung di balai keselamatan anak.[12] Terkadang anak ini dibawa oleh ayahnya, bila dia kembali ke Eropa dan tidak akan kembali lagi. 

Posisi seorang nyai dalam hubungannya dengan tuan Eropa tergantung dari sifat tuannya itu. Bila tuannya adalah laki-laki yang berpendidikan dan makmur maka nyai berfungsi selayaknya istri, pembantu, atau budak. Namun bila si laki-laki kurang peduli maka nyai lebih banyak berfungsi sebagai pelacur.
Tiadanya kejelasan status dalam hubungan antara nyai dengan laki-laki Eropa masa itu, sungguh menyulitkan posisi anak hasil hubungan mereka karena kebanyakan anak darah campuran atau indo tidak diposisikan sebagai warga kelas Eropa. Orang Eropa sendiri cenderung memandang rendah anak-anak indo kecuali mereka sudah mendapat status Eropa dengan cara telah diakui oleh ayahnya. Rendahnya status indo dibanding orang-orang Eropa asli dirasakan oleh seorang pegawai Belanda bernama Willem Walraven, diceritakan dengan penuh penderitaan demikian:

Bahwa satu dari anak perempuannya yang berkulit agak cokelat, anak sulungnya, merasa malu terlihat di depan umum bersama Itih, ibunya yang berdarah Sunda, karena dia percaya bahwa perempuan berdarah murni Eropa akan melecehkan dan mengabaikan mereka.[13]

Banyak kisah dan roman yang ditulis mengenai nyai dibumbui sedapnya penderitaan dan pengorbanan cinta. Umumnya penulis kisah-kisah tersebut adalah orang Eropa sehingga menyudutkan nyai pada posisi sebagai perempuan nakal dan perebut suami orang. Seperti yang ditulis oleh Theresa Hoven tahun 1892 berjudul Vrouwen Life En Leed In De Tropen (Cinta dan Derita Perempuan di Tanah Tropis).[14] Berkisah tentang pertarungan seorang perempuan Belanda lugu dengan pengkhianatan budaya di Hindia Belanda. Suaminya yang dia sangka sangat baik dan terhormat ternyata seorang yang sagat jahat dan tak bermoral. Suaminya itu ketika pergi ke Belanda telah mengusir nyai dan anaknya, namun ketika kembali ke Jawa, mempekerjakan kembali si nyai sebagai juru masak keluarga. Kisah ini berakhir dengan balas dendamnya si nyai kepada tuan Eropa dan istrinya. 

Status nyai yang tidak jelas dalam hubungan keluarga menimbulkan banyak masalah. Dan dalam persinggungan dua budaya yang sungguh berbeda ini, kaum wanita yang terwakili oleh nyai lebih banyak dirugikan secara moral.

Daftar Pustaka
Denys Lombard. 2005. Nusa Jawa Silang Budaya: Batas-Batas Pembaratan Jilid I. Jakarta:Gramedia.
Djoko soekiman. 2000. Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendidikannya Di Jawa Abad XVIII-Medio Abad XXI. Yogyakarta: Bentang Budaya.
Frances Gouda. 2007. Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda 1900-1942. Jakarta: SerambI.
Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern. Jakarta:Pustaka Amani.
Leonard Blusse. 2004. Persekutuan Aneh: Pemukim Cina, Wanita Peranakan, dan Belanda di Batavia VOC . Yogyakarta:LKiS.
Suyono. 2005. Seks dan Kekerasan pada Zaman Kolonial . Jakarta:Grasindo.


[1] Cuplikan artikel yang ditulis oleh E.F.E. Douwes Dekker pada tahun 1913 sebagai bentuk protes atas perkawinan antar bangsa yang cenderung merendahkan martabat kaum wanita pribumi Asia (Lihat di Frances Gouda. Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda 1900-1942. Jakarta: Serambi, 2007, hlm. 271)
[2] Memelihara istri simpanan, biasanya tanpa adanya status perkawinan yang jelas
[3] Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern. (Jakarta:Pustaka Amani)
[4] Suyono. Seks dan Kekerasan pada Zaman Kolonial (Jakarta:Grasindo,2005), hlm.16.
[5] Anak hasil perkawinan orang pribumi asli dengan orang Belanda
[6] Frances Gouda. Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda 1900-1942. Jakarta: Serambi, 2007, hlm. 291)
[7] Denys Lombard. Nusa Jawa Silang Budaya: Batas-Batas Pembaratan Jilid I (Jakarta:Gramedia,2005), hlm.158.
[8] Lihat di Djoko soekiman. Kebudayaan indis dan gaya hidup masyarakat pendidikannya di Jawa abad XVIII-medio abad XX1 (Yogyakarta: Bentang Budaya,2000), hlm.36.
[9] Leonard Blusse. Persekutuan Aneh: Pemukim Cina, Wanita Peranakan, dan Belanda di Batavia VOC (Yogyakarta:LKiS,2004) hlm. 20
[10] Frances Gouda. Op. Cit, hlm. 295.
[11] Suyono, Op.Cit, hlm. 26
[12] Dibangun memang untuk menampung anak-anak hasil hubungan nyai dengan tuan Eropa-nya (Ibid., hlm. 29.)
[13] Frances Gouda. Op. Cit, hlm. 287.
[14] Ibid. hlm. 326