Ini adalah tulisan saya di blog sebelah yang bertanggal 13 Oktober 2013, tepatnya sehari menjelang hari raya Idul Adha. Saya memang telah mencoba beberapa blog, dan saya pikir ini adalah blog yang paling cocok dan mudah tentu saja :)
Menjadi pemenang lomba menulis tingkat nasional adalah sebuah kebanggaan
buatku, yang terus-menerus akan kuingat sepanjang hidup. Bukan masalah
hadiah uangnya, namun masalah proses. Bagaimana untuk bisa sampai kesana
itulah yang kadang membuatku geleng-geleng kepala jika mengingatnya.
Dan lompatan yang terlampaui jauh pulalah yang membuatku heran dan tak
habis mengerti. Walaupun aku juga tak bisa melepaskan semua ini dari
pengaruh suamiku. Naskah yang aku lombakan itu aku buat sejak tahun
2010, dan aku ikutkan lomba di tahun 2012. Dua tahun waktu buatku untuk
mengotak-atik, menambal sulam dan membongkar ulang di bagian tertentu.
Kadang aku kecewa, ketika naskah dibaca oleh suami. Kata-katanya adalah
“naskah terlalu kering, harus didalami di beberapa bagian sehingga alur
ceritanya bisa dinamis”. Oh…… ternyata untuk menulis sejarah pun harus
pandai-pandai mengolah kata, karena itulah dalam sejarah ada yang
disebut tahap interpretasi. Kalau Cuma kumpulan kata-kata, tulisan hanya
akan seperti kamus. Benahi lagi dan cari sumber lagi.
Begitupun ketika aku sodorkan judul untuk tulisanku. Suami bilang, judul
kurang cocok. Katanya, judul haruslah menggambarkan seluruh isi tulisan
bukan cuma mewakili sebagian tulisan saja. Kalau novel atau kumpulan
cerpen mungkin tak apalah judul seperti itu tapi untuk tulisan sejarah
baiklah aku mengikuti apa katanya. Jadilah aku setiap harinya merenung,
apa judul yang cocok untuk tulisanku. Sampai kutemukan judul yang pas,
mewakili dan terkesan sedikit resmi namun tak terlalu panjang.
Tahun 2013 adalah tahun kedua buatku mengikuti lomba yang sama. Sampai
tulisan ini kubuat, belum ada pengumuman siapa-siapa yang menjadi
pemenang. Berharap menang lagi, tentu saja iya. Namun aku juga sudah
siap jika tak menang, karena ini kompetisi, ada yang menang dan ada yang
kalah.
Namun, lebih dari itu aku sekarang menyadari betapa memang Tuhan
memberikan apa yang kita butuhkan dan bukan apa yang kita inginkan.
Selain aku belajar banyak tentang dunia tulisan kepadanya aku juga telah
menjadikannya sebagai mentor pribadiku dalam belajar bahasa Inggris.
 |
| Mulai dari dasar lagi nih |
Awalnya suami menyarankan agar aku les bahasa Inggris di lembaga
tertentu dan dia siap untuk menanggung biaya. Karena cita-cita kami
sama, ingin melanjutkan s3 ke luar negeri. Kemampuan bahasa Inggris
suami sudah cukup bagus, sementara aku masih jauh alias sangat jelek.
Namun setelah survey sana-sini, kok kelihatannya cukup mahal. Lebih baik
uangnya untuk keperluan rumah tangga dan keperluan anak pikirku.
Dari situlah akhirnya aku memutuskan untuk belajar bahsa Inggris mandiri
dengan modul dan buku yang aku beli di Gramedia, bila aku kesulitan
tinggal bertanya ke suami. Intinya begini menurutku “Jangan gengsi
bertanya ke suami jika tidak tahu, tidak mengerti atau kurang paham
dengan apa yang dijelaskan oleh buku” Alhamdulillah suami menyambut baik
niatku ini, dia juga telaten dan sabar menjelaskan, mengoreksi exercise
ku, serta memberikan kritikan-kritikan untuk pemahaman bahasa Inggrisku
yang masih kurang bagus dan saat tulisan ini aku buat, aku sudah
belajar banyak dari suami.