Kamis, 29 Maret 2012

Buku pertama: Detik-Detik Proklamasi


cover depan
Ini adalah buku pertama yang berhasil saya buat dengan seorang teman di pascasarjana UNS (yang saat ini telah menjadi suami saya ^_^)

bukan hal mudah buat saya untuk menulis, karena ini memang pengalaman pertama. Yang saya tulis waktu saya kecil dulu pun hanya sekedar diary. Buku ini menjadi awal dari saya untuk terus berkarya.

Buku yang diterbitkan oleh penerbit Narasi Yogyakarta pada tahun 2011 ini membuat saya yakin bahwa menulis adalah sebuah ketrampilan. Artinya bisa dipelajari, bisa dilatih. Ok lah bakat mungkin penting tapi apa artinya sebuah bakat kalau tidak diimbangi dengan latihan, hanya akan menjadi bakat terpendam saja kan.




cover belakang
                                                                         

Minke dalam Kemelut Organisasi


Judul : Jejak Langkah
Penulis : Pramudya Ananta Toer
Penerbit: Hasta Mitra
Tahun : 2001
Tebal : 555+vi Halaman



Sekali lagi saya tidak dapat mengelak dari kenyataan bahwa kecintaan saya pada tulisan Bung Pram atas jasa baik teman, Arifin Suryo Nugroho penulis buku Fatmawati Soekarno (Ombak, 2010).

Buku ini merupakan buku ketiga dari tetralogi Pramudya Ananta Toer yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Saya belum membaca semuanya, karena setelah membaca buku pertama yaitu Bumi Manusia, saya langsung loncat ke buku ketiga yaitu Jejak Langkah.

Saya setuju dengan Minke yang merupakan tokoh utama dalam buku ini, bahwa apa yang kita tiru sebagian dari bangsa barat bukan berarti kita kebarat-baratan, bukan berarti kita melupakan nenek moyang. Apa yang tidak diwariskan nenek moyang, pantas kita cari dari negeri seberang. Saya seorang muslim dan di dalam ajaran agama saya telah ada nasehat bahwa “Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina”.

Minke laki-laki Jawa namun dia bersepatu, berbahasa Belanda dan Inggris, menolak adat menyembah kepada pembesar yang diajarkan nenek moyangnya, dan ikut serta mendirikan organisasi modern.

Buku ini adalah sebuah novel, walaupun bukan buku sejarah. namun dekat dengan sejarah. Ada beberapa fakta yang disampaikan oleh Bung Pram, maka buku ini menjadi begitu hidup.

Minke merasakan betul bagaimana jatuh bangunnya dalam mendirikan sebuah organisasi yang modern. Dan terasa betul dalam buku ini bahwa masa tahun 1908-an pembesar pribumi tak lagi punya kuasa kecuali hanya sebagai anak buah pembesar Eropa.

Saya sadar bangsa saya Indonesia belum sepenuhnya bangun dari keterpurukannya walaupun sudah merdeka 65 tahun. Minke adalah salah satu sosok yang dihadirkan oleh Bung Pram, sebagai lambang pribumi yang merindukan kemajuan Indonesia (dulu Hindia Belanda).

Pemlintiran makna gender


Tulisan ini berangkat dari masih banyaknya masyakat termasuk di dalamnya aktivis akademika yang belum paham makna gender yang sesungguhnya, bahkan kaum perempuan atau kaum wanita sendiri yang notabene korban dari pemlintiran makna gender, terkadang juga belum bahkan tidak paham. Penggunaan istilah perempuan berasal dari kata “empu” yang maknanya dihargai, dipertuan, dihormati sedangkan wanita berasal dari kata “wani tapa” artinya berani menderita untuk sebuah tujuan yang mulia (Handayani: 2008)

Gender dan kelamin

Gender adalah suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun cultural (Fakih: 2007:8). Misalnya perempuan senantiasa di identikkan dengan kelembutan, kasih sayang, selalu memakai perasaan, suka menangis, dll. Sementara laki-laki di identikkan dengan kepemimpinan, rasional, tegas, jarang menangis.

Kelamin merupakan penggolongan biologis yang didasarkan pada sifat reproduksi potensial (Sugihastuti, 2007:5). Misalnya perempuan memiliki vagina, payudara, rahim, bisa melahirkan dan menyusui, sementara laki-laki memiliki jakun, penis, dan menghasilkan sperma, ketetapan ini sudah ada sejak dahulu kala.
Gender tidak diturunkan langsung melalui ciri biologis, gender juga bukan kepemilikan individual. Tetapi gender dibentuk oleh lingkungan sosial. Gender bukanlah definisi permanen tentang cara “alami” bagi perempuan dan laki-laki untuk berperilaku, kendati pun definisi semacam itu dihadirkan atau dialami (Mosse, 2002:4). Gender tertanam dalam pengalaman-pengalaman mulai dari lembaga pendidikan, kantor pemerintahan, tempat rekreasi, hingga permainan. Gender terpatri dalam keluarga, lingkungan, sekolah, dan media. Gender dapat terlihat dari bagaimana perempuan dan laki-laki berjalan, makan di restoran, termasuk memakai toilet.

Pemlintiran makna gender

Pemaknaan gender atau kelamin yang tidak tepat tidak penting dan tidak menjadi soal bila tidak menimbulkan masalah. Namun pemaknaan yang tidak tepat telah menimbulkan masalah diantaranya merendahkan posisi perempuan baik di lingkungan rumah tangga, lingkungan kerja, atau lingkungan masyarakat sosial yang lebih luas. Eksploitasi terhadap perempuan, dan pelecehan seksual. Contoh pemlintiran makna gender diambil dari dua segi yaitu dari segi kebudayaan Jawa dan dari segi pandangan Islam.

A. Kebudayaan jawa
Di kebudayaan jawa di kenal berbagai pandangan, prinsip hidup, karakteristik masyarakat jawa yang diwujudkan dalam suatu kata-kata, khususnya yang akan dibicarakan disini adalah masalah perempuan. Kata-kata tersebut sayangnya diartikan secara egois oleh kalangan tertentu, sehingga menghilangkan makna luhur yang sebenarnya dikandung. Diantaranya yaitu “kanca wingking” yang oleh masyarakat pada umumnya diartikan dan diperjelas dengan istilah “dapur, kasur, pupur” atau “masak, macak, manak”. Sungguh ada yang salah disitu, yaitu pemlintiran makna, mencuplik dari Handayani (2008: 118) kanca wingking tidak selalu diartikan seseorang yang senantiasa berada di belakang, lebih buruk, dan kurang menentukan. Tapi istilah kanca wingking bila ditelaah lebih lanjut, bermakna luhur. Seperti sutradara, tempatnya di belakang layar tapi justru dialah yang menentukan jalannya permainan. Maka terdapatlah kata-kata yang amat terkenal bahwa”di belakang kejayaan seorang laki-laki ada perempuan hebat”.

B. Pandangan Islam
Orang seringkali menggunakan dasar agama untuk menginferioritaskan atau merendahkan perempuan, termasuk penggunaan kitab suci Al Quran sebagai dasar inferioriras, contohnya (Hidayatullah.com) pertama ungkapan “perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki” sehingga seringkali hanya sebagai pelengkap laki-laki saja. Padahal dalam Al Quran tidak pernah disebutkan hawa tercipta dari tulang rusuk adam. Keduanya adalah hamba Allah yang mempunyai kedudukan sama, tidak ada mana yang lebih rendah atau mana yang lebih tinggi. Kedua yaitu istilah yang juga popular di kalangan masyarakat Jawa “Surga nunut neraka katut,”. Allah memandang semua makhluknya sama kecuali takwanya, dan Allah memberikan balasan yang adil untuk semua makhluk baik laki-laki maupun perempuan untuk setiap perbuatannya. Ketiga ayat yang menyatakan “ Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita”. Pemimpin dalam bahasa Arab bisa berarti pelindung, atau penanggung jawab.

Dari itulah tak ada lagi direndahkan atau merendahkan, karena laki-laki dan perempuan pada dasarnya berpijak pada kodratnya masing-masing yang bila dijalankan dengan keluhuran akan menciptakan keharmonisan hidup di jagat raya. Perempuan harus lebih cerdas untuk memaknai hak dan kewajiban dalam hidup, serta jeli dengan tindakan-tindakan pemlintiran makna gender yang bermaksud merendahkan dirinya.

Sumber rujukan
Fakih, Mansour. 2007. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Handayani, Christina S& Ardhian Novianto. 2008. Kuasa Wanita Jawa. Yogyakarta: LKIS
Mosse, Julia Cleves. 2002. Gender dan pembangunan. Yogyakarta: pustaka pelajar.
Sugihastuti&Itsna Hadi Saptiawan. 2007. Gender & Inferioritas Perempuan: Praktik Kritik Sastra Feminis.
Pustaka pelajar: Yogyakarta.
Hidayatullah.com diakses 30 Desember 2009

Sorogan dan Wetonan


Ketika itu saya harus membaca buku karangan Djarnawi Hadikusuma berjudul  Matahari-Matahari Muhammadiyah dalam rangka diminta teman untuk membantu menulis sebuah naskah buku. Saya tertarik pada salah satu cerita tentang tokoh dari organisasi Muhammadiyah bernama KH. Ibrahim.

Disitu diceritakan tentang metode mengaji ala KH. Ibrahim. Perlu saya ingatkan bahwa KH. Ibrahim adalah salah satu pemimpin organisasi Muhammadiyah. Yang menarik, dari metode mengaji itu dinamakan Sorogan dan Wetonan. Metode sorogan adalah metode belajar mengaji dengan cara face to face atau seorang demi seorang, dan biasanya oleh sang kyai dilakasanakan setiap pagi dari pukul 7 sampai 9.  Sementara metode weton adalah metode belajar mengaji dengan cara sang Kyai membaca, sedang santri-santrinya mendengarkan dengan memegang kitabnya masing-masing. Wetonan dilaksanakan setiap hari sesudah ashar sampai kurang lebih pukul 5 sore.

Saya tidak mengerti bagaimana rasanya ketika mengaji menggunakan metode Sorogan dan Wetonan, karena saya memang tidak pernah nyantri. Metode inilah yang kemudian dipakai oleh santri-santri masa kini. Beruntunglah hei para santri yang pernah merasakan metode ini.

SK. Trimurti menolak mengerek bendera



Mengingat secuil peristiwa menjelang hari bersejarah yang dirayakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Pagi hari tanggal 17 Agustus 1945, rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta ramai dengan persiapan upacara. Ada banyak mata biru milik para londo yang memandang sinis.
Yu Tri, kerek bendera itu”, tiba-tiba terdengar suara beberapa orang. Si pemilik nama menyahut “Ndak mau, lebih baik saudara Latif (Hendraningrat) saja. Dia kan dari Peta”. Maka kita sekarang Latif Hendraningrat sebagai pengerek bendera pusaka pada upacara paling bersejarah bagi bangsa Indonesia yaitu upacara proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 kediaman Sukarno dan keluarga.
Lantas siapakah sosok manusia yang dipanggil “Tri” itu? Perempuan dengan panggilan “Tri” itu adalah Surastri Karma Trimurti yang kemudian lebih populer disebut SK. Trimurti. Sosoknya kecil mungil namun semangat dan keberaniannya membaja. Pengalamannya keluar masuk penjara akibat melawan Belanda adalah catatan sejarah yang melekat padanya.
Dia seorang wartawati, tulisannya tajam dan cenderung berani sehingga menimbulkan kecurigaan pemerintah kolonial. Namun demikian Surasti tak pernah merasa gentar atau menyerah.
Saya sadar anda pembaca pasti tidak tahu siapa tokoh yang saya bicarakan. Kalau pun ada yang tahu pasti hanya beberapa orang saja. Namanya memang tak pernah disebut di dalam buku pelajaran sejarah anak sekolah, namun begitu bukan berarti dia tak layak disebut pahlawan. Seandinya dia jadi mengerek bendera namanya akan banyak ditulis di buku sejarah anak sekolah??

Sejarah Mentalitas ala Kuntowijoyo



Mengingat secuil peristiwa menjelang hari bersejarah yang dirayakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Pagi hari tanggal 17 Agustus 1945, rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta ramai dengan persiapan upacara. Ada banyak mata biru milik para londo yang memandang sinis.
Yu Tri, kerek bendera itu”, tiba-tiba terdengar suara beberapa orang. Si pemilik nama menyahut “Ndak mau, lebih baik saudara Latif (Hendraningrat) saja. Dia kan dari Peta”. Maka kita sekarang Latif Hendraningrat sebagai pengerek bendera pusaka pada upacara paling bersejarah bagi bangsa Indonesia yaitu upacara proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 kediaman Sukarno dan keluarga.
Lantas siapakah sosok manusia yang dipanggil “Tri” itu? Perempuan dengan panggilan “Tri” itu adalah Surastri Karma Trimurti yang kemudian lebih populer disebut SK. Trimurti. Sosoknya kecil mungil namun semangat dan keberaniannya membaja. Pengalamannya keluar masuk penjara akibat melawan Belanda adalah catatan sejarah yang melekat padanya.
Dia seorang wartawati, tulisannya tajam dan cenderung berani sehingga menimbulkan kecurigaan pemerintah kolonial. Namun demikian Surasti tak pernah merasa gentar atau menyerah.
Saya sadar anda pembaca pasti tidak tahu siapa tokoh yang saya bicarakan. Kalau pun ada yang tahu pasti hanya beberapa orang saja. Namanya memang tak pernah disebut di dalam buku pelajaran sejarah anak sekolah, namun begitu bukan berarti dia tak layak disebut pahlawan. Seandinya dia jadi mengerek bendera namanya akan banyak ditulis di buku sejarah anak sekolah??